skip to Main Content
0811-9488-869 info@kemahkeluarga.org

Obat rindu dan K3I

Memangnya sakit apa, kok ada obat namanya aneh? Apa K3I semacam antibiotic, probiotik, atau… obat penyakit kronis lainnya?

Ah jangan serius dulu. Bukan sembarang obat yang punya efek samping negatif. Tapi lebih banyak sisi positifnya. (jangan mikir test pack ya)

Kerinduan saya pada momen naik gunung saat kuliah dulu semakin menjadi saat melihat film everest. Bukaan, saya belum pernah naik Everest, mimpi naik Rinjani dan Semeru saja belum kesampaian. Baru Salak, Gede-Pangrango, Ciremai, Slamet. Keburu lulus kuliah langsung stop naik gunung.

Daan.. K3I ini sukses mengobati kerinduan saya pada gunung. *minimal kemping dulu.

Rutinitas memang membuat bosan. Liburan ke tempat itu-itu lagi juga seringkali tidak sesuai harapan. Alhamdulillah, dapat info dari Nte Liani. Ternyata ada acara kemping keluarga yang bertepatan dengan agenda libur sekolah anak-anak dan long weekend.

Agenda kemping keluarga ini dimotori oleh Komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3I). Kepala sukunya Om Chepy yang humble. Begitu saya pengen ikutan kemping, langsung dicemplungin ke grup wasap K3I. walah… isinya rame terus, nggak ada matinya deh.

Awalnya ragu, karena nggak punya perlengkapan kemping. Kebayang dong, bawa pasukan kemping. Duluu banget, bawa diri gampang. Modal baju ganti, jaket, sleeping bag dan logistic buat sendiri. Muat semuanya di keril. Lah ini, bawa peralatan lenong karena krucil kemana-mana kudu bawa bantal guling. Ga bisa tidur tanpa dua benda sakti ituh. Belum lagi buku favorit dan mainan. Plus, di bungsu yang super bersih, alias ogah kotor. Duh, parno duluan.

Penjelasan dari penghuni K3I Alhamdulillah menenangkan emak parnoan kayak saya. Nggak punya tenda, gampaang.. tinggal sewa. Nggak punya sleeping bag, tinggal sewaa. Sampai kompor juga bisa sewa. Ih, keren banget kan. Untuk keluarga pemula kayak saya, amanlah sewa ini itu. Next kalau mau rutin kemping, baru deh mikir nabung buat beli tenda yang besaaar dan perkap lainnya.

Taraa… berangkatlah kami ke Cibodas tgl 24 Desember sore. Melalui jalur Cibarusah-Jonggol-Cariu-Cianjur-Cipanas-Cibodas. Ketar ketir, karena malam pas dijalan yang belok-belok dan gelaap. Sepanjang jalan saya asli stress. Sampai Cianjur bingung. Banyak perempatan, minim penunjuk arah. Alhamdulillah K3I lagi-lagi menuntun agar nggak nyasar. HP lowbat pula, nggak bisa buka google map or waze.

Sampai di Cibodas pukul 22.50. Om Chepy dan Nte Ichy menyambut hangat. Om siapa ya, lupa. Yang ngajarin nyalain kompor. Hihihi… jaman dulu masih pake paraffin. Terakhir naik pangrango, ada teman yang hobi masak. Jadi saya terima makanan matang langsung hap, nyam-nyam.

Berhubung masih sedikit yang datang, kami boleh memilih tenda. Alhamdulillah bisa milih tenda dekat lampu, karena emergency lamp yang kami bawa tiba-tiba mutung nggak mau nyala. Sebelah kami tendanya nte Esy, yang juga baru sampai dari Bogor.

Pagi pertama di Cibodas, dinginya sampai ke tulang.

Alergi saya kumat, biduran sekujur badan. Lupa pula bawa Claritin. Nggak nyaman banget. Eh, tapii… duo krucil tidurnya pulas banget. Ifa si beruang kutub nggak mau pakai sleeping bag. Rif’an kayak kepompong. Anteng sama bantal utek-uteknya. Saya dan Nenek langsung bikin yang anget-anget. Hihihi… laper terus kalau dingin begini. Bisa proses penggemukan badan nih.

Satu persatu perserta K3I berdatangan. Nte Liani si penebar Virus, tiba subuh di lokasi. Sempat cipika-cipiki. Makin siang makin ramai. Tapi acara belum mulai. Mungkin belum full yang hadir. Rifan mulai terlihat bosan. Saya keluarkan buku yang dia bawa. Dua jilid mute, satu ensi pusbah, dan komik palestina. Nggelosor di dalam tenda sambil membaca. Lama-lama nggak betah juga dia.

“Ibu, kita kemping kok begini aja? Aku bosan.” Protes Rif’an.
“belum mulai Rif, bentar lagi mungkin. Nanti ada games seru loh.”
Belum sempat kenalan ke tetangga sebelah. Saya tawarkan saja lego yang dia bawa. Alhamdulillah anteng deh.
Ah, ternyata lego membawa berkah silaturahim. Penghuni tenda di sebelah langsung komentar begitu lihat Rif’an main lego.
“Ayah, itu kan lego ninjago.” Terdengar suara anak dari tenda sebelah.
“Hai, nama kamu siapa?”
“Rif’an”
“Kelas berapa?”
“Dua.”
“Wah sama dong sama Bilal. Boleh main bareng nggak?”
“Boleh.” Rif’an tersenyum. Hihihi, asli lucu liat rifan senyum ditahan.

Anak-anak tuh yaa, cepat banget adaptasinya. Langsung akrab saja.

Selain buka tenda, tidur beralas matras, makan seadanya (sama aja kayak di rumah lah menunya). Lah megic jar aja dibawa. Pindah rumah ini mah. Kemping kali ini banyaaak banget bonusnya. Mau tau apa aja? Yuuk, simak tulisan selanjutnya.

#GamesTradisional
Games tradisional ini bisa dibilang yang bikin anak-anak ketagihan. Iya, games seru buat anak-anak yang membuat mereka betah kemping.

Akhirnya games untuk anak-anak dimulai. Heboh, seruu, krucil bahagiaa banget. Paling asyik saat games tradisional. Yakin deh, anak-anak sekarang belum kenal sama permainan ini. Ada bola gebok, main karet, dampu, balap karung, makan krupuk, bakiak dan lainnya.

Om dan Tante juga nggak ketinggalan. Mengenang masa kecil yang bahagia ini mah. Si Om yang kalah main dampu, kudu gendong lawan main yang menang. Apesnya kalau yang kalah kudu gendong yang lebih besar badannya. Dijamin nyusruk. Hiburan banget buat penonton. Sayangnya saya nggak ikutan, masih berkutat sama si biduran.

#StorytellingbyOmBudi
Story telling juga menjadi salah satu magnet buat anak-anak. Yey, bonusnya banyak banget K3I ini. Selain kemping ternyata ada story telling.

Anak-anak sampai sekarang masih ingat sama si Riri. Rif’an & Ifa penasaran banget, Riri itu bisa bicara sendiri. Bukan dubbing-an Om Budi. Riri itu bisa bergerak sendiri, bukan tangan Om budi yang menggerakan. Imajinasi anak-anak hebring bener deh. Riri & Om Budi, kereeen.

#ParentingdenganBundaBidadari
Mana ada kemping bonus seminar singkat (sharing) parenting? Eh, di sini ada loh. Sharing parenting oleh Bunda Iin Safitri. Meski singkat tapi cukup membekas. Tentang Ayah Artis, Bunda Bidadari dan Anak Bintang. Pengen nangis deh, kalau ingat materi sharing Bunda Iin. Ternyata saya mengidap BLAST yang cukup parah. Huhuhu… semoga bisa segera disembuhkan. Semoga sembuh BLAST-nya berubah menjadi FAST (Fathonah Amanah Shidiq Tabligh). You rock Bun. Asli ngefans mendadak.

#SilaturahimNoJaim
Kentalnya persaudaraan di K3I membuat yang jaim-jaim jadi meleleh. Beneran deh. Om tantenya baik-baik bangeet. Sejak datang sampai pulang, panitia support para peserta. Saat regristrasi, sabar banget update transferan, nulis catatan kapan dan berapa jumlahnya. Ada yang bantuin peserta buka tenda, ada yang diajarin nyalain kompor (ini mah saya), sampai sabar banget melayani satu persatu request dari peserta. Jempol sepuluh deh… buat panitia.

#BerbagimeluaskanRezeki
Berbagi, baksos sambil kemping. Adanya di K3I. Ini juga bikin melting. Ditengah hiruk pikuk egoisnya manusia, K3I menyelipkan satu agenda berbagi dengan anak sekitar lokasi kemping.

Melibatkan peserta anak-anak secara langsung dalam baksos membuat mereka lebih banyak bersyukur. Tidak melulu berfikir, “untuk aku, aku lagi, hanya aku.” Tapi juga diajak berbagi dengan teman-temannya. Panitia keliling tenda untuk mengumpulkan donasi, Masya Allah… dalam waktu singkat dana terkumpul lumayan. Kekuatan berbagi itu ternyata masih ada dalam hati kita. *mewek deui

#SelaluingatALLAH
Ini juga yang bikin saya meleleh. Meski sedang kemping, urusan sholat jamaah tetap berjalan dengan baik. Bahkan sholat jum’at di tempat. Huhuhu… jarang-jarang bisa begini. Liat sholat jum’at di tengah lapang, di kaki gunung gede-pangrango, di kelilingi puluhan tenda. Syahdu bangeet. Masya Allah, semoga keberkahan tercurah untuk seluruh penghuni K3I. Tetap mendahulukan Allah disetiap moment. Dekat dengan alam, menjadikan kami lebih mendekatkan diri pada Allah. Jazaakumullah khairan panitaa K3I.

#K3Iselaludihati
K3I selalu di hati kami. Sampai-sampai Rifan (7thn) mutung ngga mau pulang. Begini nih, kalau mutung minta digendong. Nggak mau difoto.

Bahkan tawar menawar minta pulang siang. Berat dia berpisah dengan teman-temannya, sempat mellow pas Bilal dan Kafi pulang lebih dulu. Sempat sedih tak sempat berpamitan pada Umar dan lainnya. Benarlah, di K3I anak-anak panen kawan baru.

Weleh… panjang juga nih tulisan.
Terakhir, K3I menjadi pilihan utama keluarga untuk mengisi liburan. Selain costnya sangat murah, semua bisa didapat di sini. K3I mampu mengalihkan perhatian anak-anak pada gadget dkk. K3I membuat kami mendapat pengalaman baru, teman baru, dan batre baru. Hihihi.. iya nih, saya kayak baru nge-charge batre hati saya. Sekaligus memantapkan hati membuat resolusi tahunan yang lebih baik lagi. Obat rindu saya pada gunung, ya… K3I.

#KemahKeluarga
#K3ILuarBiasa #KemahKeluargaIndonesia #AkuBanggaDenganK3I
#Aku&K3I